AKU YANG MENOLAK BUNUH DIRI
Pada
malam-malam yang keramat. Aku hanya bisa mematung. Melihat segala yang lewat.
Menepis segala katalis yang mendesakku ke jurang kesakitan. Dalam kedalaman
batinku, kutegaskan, bahwa aku hanya belajar untuk tenang. Belajar untuk
melupakan semua kisah yang pernah ada. Belajar untuk tidak mengingatnya meski
satu titik hitam tentangnya.
Setelah
tiga tahun lebih, aku mendulang jiwaku dengan percintaan yang edan, aku dengan
dia yang berkhianat kini: bukanlah apa-apa selain ‘sumpah’ kumengutuknya. Tapi
aku bukan Ratu Dido dari Carthage atau Tunisia yang rela mati karena
penghianatan sang kekasih, Aeneas yang pergi ke Itali itu. Aku juga tidak butuh
sanjungan sebagaimana penyair Roma Virgil dalam bukunya Aeneid (29-19 SM), bahwa kematian Ratu Dido adalah lambang menjaga
harga diri.
Aku
tak akan pernah rela mati pada orang yang membohongiku berkali-kali. Setelah pemaafan
yang kesekiankali, aku menjadi mengerti bahwa semuanya sudah tak berarti. Aku
tak akan pernah menulis selain kutukan bahwa kepergiannya adalah pengingkaran. Bagiku,
jelas berbeda dengan Roma Virgil dalam memaknai sajak Ratu Dido, untuk
mengenang kematinya ia menulis: biarkan
aku mati, dengan bahagia aku menuju kegelaapn. Semoga Troya yang berhati kosong
melipat api pembakaranku di tempat yang jauh dan dalam dan menebar kutuk
baginya—bahwa semua itu adalah kutukan yang akan menghantui Aeneas
sepanjang hidupnya dan aku mengaimininya.
Perasaan
seperti jalan sunyi yang terus mengirimkan hantu-hantu masa lalu. Tapi kini, aku
tak pernah takut. Bahkan bagiku, semua bayang-bayang itu hanyalah lelucon yang
pantas ditertawai. Ia yang memilih pergi dengan sejuta alasan atau apapun itu
bentuknya, bagiku hanyalah serpihan angin yang mengusik telingaku. Sungguh tak
ada penyesalan apalagi pikiran akan mengutuk diri pada kematian. Kepergiaannya
adalah jalan sunyi yang kuimpikan.
Sepintas
ingat, masa indah dengan penghianat itu yang perlu kamu tahu. Bahwa setelah kita
sepakat untuk saling berbagi, saat sedih dan bahagia, di bibir pantai yang
ombaknya berderu ritmis, dan pasir-pasir merekam semua janji itu, dan langit
yang berkalung merah saga itu manatap lekat pada wajahnya, aku menjadi
mengerti, bahwa dirinya adalah jelmaan dari kefanaan yang tak perlu ditangisi.
Aku
percaya kau telah pergi. Aku tak perlu tahu apapun alasanmu, yang kutahu kau
pergi dengan kutukanku. Tapi indah bukan!? Fragmen kecil tentang yang indah
selalu menjadi bagian yang lain. Mungkin benar meminjam ungkapan Trias
Kuncahyono bahwa keindahan mengandung pengertian ide
kebaikan. Plato, seorang filsuf Yunani (lahir 428/427 SM di Athena, Yunani, dan
meninggal 348/347 SM di Athena), misalnya, menyebut watak yang indah dan hukum
yang indah.
Semua yang indah tentangnya, ya hanya indah ketika diingat.
Tidak lebih. Toh sampai kini, kupercaya Aristoteles (lahir pada tahun 384 SM di
Stageira, Yunani Utara, dan meninggal pada 322 SM) bahwa “Kita tidak
menginginkan kegunaan dan kepastian, kecuali demi keindahan, tetapi keindahan
ini bersatu padu dengan akal manusia.”
Akan tetapi, keindahan mengingat tentangnya tak akan
pernah membunuhku. Sejauh itu aku juga meyakini bahwa aku menolak bunuh diri
meski dia harus berkalung sutra dengan laki-laki lain; bercincin mutiara dari
laki-laki lain. Karena sebagaimana Aristoteles
tegaskan, dalam Euthanasia and suicide in Antiquity: Viewpoint of the
dramatists and philosophers. Papadimitrou et al, Journal of the Royal Society
of Medicine based on translation from The Loeb Classical Library. Cambridge
Mass: Harvard University Press 1982, bahwa “menghampiri kematian
demi melarikan diri dari penderitaan cinta atau rasa sakit atau duka, bukanlah
sebuah tindakan manusia berani melainkan seorang pengecut.”
Aku menolak menjadi pengecut. Aku mengutuk orang
yang rela mati karena cintanya yang runyam. Karena pada saat itu yang perlu
dilakukan adalah membalikkan pikiran dan perasaan ke arah yang berlawanan,
bukan menangisi atau bahkan merelakan nyawa sendiri.
Hari-hariku kini, bila teringat tentangnya, tak
lain dari bunga yang akan segera layu. Tapi perlu tahu, terkadang perempuan
hatinya terbuat dari pelastik, atau kertas, yang tidak mengenal ‘cinta’ dan
‘keindahan.’ Mengenasakan bukan!? Ia, sebagaimana mantanku, hanya terbuai
dengan sesuatu yang datang dari luar cinta dan keindahan: materi yang
berkonotasi kemapanan dan kemegahan.
Tapi semua itu bukan urusanku, kini. Biarlah ia
berlayar dengan kakasih barunya, dengan segala mimpi-mimpi akan hidup megah di
dalam dunia ini. Aku akan terus menjadi bagian yang menikmati keindahan masa
lalu dengan secarik prosa-prosa yang kutuliskan. Aku tidak peduli kau
membacanya atau tidak. Karena aku tidak lagi memiliki rasa peduli padanya.
Tentu saja kisah percintaanku ini berbeda dengan drama yang Shakespeare
tulis sekitar (1599-1602). Dikisahkan dalam drama itu, Ophelia yang muda dan
lugu itu mencintai Hamlet, seorang pengeran kerajaan Denmark. Sebaliknya,
Hamlet tidak sepenuhnya mencintai Ophelia atau bisa dibilang cinta Ophelia
bertepuk sebelah tangan. Bila dibandingkan dengan posisiku, jelas aku lahir
dari etnis yang kerap dicap keras, egois, carok dan sejenisnya, bukan pangeran
tapi gelandangan. Tentu saja ia, mantanku, sangat tahu dan menolak keras hidup
yang tidak jelas sepertiku. Karena dalam kolong langit ini, orang miskin, jelek,
bodoh dan semacamnya adalam umpan bagi derita di luar sana, atau bagi dia
mantanku.
Masa
lalu tentangku dan ia adalah kuburan cinta yang paling abadi di dunia ini. Maka
Puisi Bernando J. Sujibto, yang berjudul Ziarah ini mewakili persepsiku:
“aku takkan mengatakan selamat tinggal
Untuk tubuhmu yang mekar pada mawar
Aku takkan mengatakan selamat tinggal
Untuk kuburmu, jendela menatap taman
bunga
Aku takkan mengatakan selamat tinggal
Untuk cinta yang kau arsir dari kitab
suci
Aku takkan mengatakan selamat tinggal
Untuk jerit ney yang meresap ke jantungku
Aku takkan mengatakan selamat tinggal
Seperti pintamu, selamat datang cinta!”
saya suka tulisan ini. bisa buatkan lagi dengan tema pacar yang baru?
BalasHapus