Postingan

Menampilkan postingan dengan label Essay

Surat Kepada Para Penyair

Akhir-akhir ini, para penyair ribut. Satu penyair dengan penyair lain saling lempar batu di media sosial—tentu tidak sembunyi tangan—karena penyair, orang-orangny a  itu-itu saja. Masalahnya sepele, yakni kanonisasi sastrawan Indonesia . Menyatakan “itu-itu saja” bukan berarti tidak ada penyair muda. Bannyak. Sangat banyak sekali. Nahasnya, penyair muda menyusu kepada penyair tua. Penyair tua tidak mau melapas asuhannya. Mungkin demi menjaga tradisi—tradisi oligarki demi proyek-proyek kecil yang cukup untuk membeli kopi dan roti. Terciptalah golongan-golongan kecil dalam bersastra. Ada yang golongan utara, selatan, barat, dan timur, yang dikomandani satu penyair besar. Penyair yang bisa berbagi jatah hal ihwal project penelitian, pembukuan, perlombaan dan lain sebagainya. Tidak jadi soal. Karena menjadi penyair di negara ini harus fasih mengisap jempol setiap pagi. Menunggu salah satu karyanya dimuat . Kalo sudah dimuat tinggal menunggu honor, begitulah, laiknya mendapat tunjangan-...

DIDAKTIK DALAM SYAIR KLASIK

Sastra lama kita, syair, banyak merekam cerita-cerita yang dikisahkan secara turun-temurun. Seperti syair Ken Tambunan, Syair Bidasari, Syair Ikan Terubuk Berahikan Puyu-Puyu, Syair Perang Makasar , dan banyak lagi yang kerap kita dengar dari nenek moyang. Beberapa unsur menarik dalam syair melayu lama, seperti aspek humor, aspek didaktik dan aspek simbolik. Semua aspek itu dapat menggambarkan keadaan masyarakat serta latar belakang cerita atau syair. Namun masalahnya, di zaman modernisme sastra melayu lama seolah hilang fakta kemanusiaannya, seolah bukan gubahan trans individual, bahkan tak penting lagi dialektika pemahaman dan penjelasan dalam syair-syair tersebut. Revolusi sosial, politik, ekonomi, dan karya-karya kultural yang besar menggiring manusia melupakan cerminnya. Melupakan pijakannya. Pengakuan Eagleton, 1983, mengenai kesusastraan modern muncul pada abad XIX, yaitu zaman romantik. Yang pertama muncul adalah penyempitan kategori kesusastraan terhadap karya kreatif-i...

PRODUKTIVITAS PENGARANG DALAM ROTASI ZAMAN

Esai Khairul Mufid yang berjudul, Spionase Ketahanan Pengarang , pada Minggu Pagi, 1 Juni 2015, menggelitikku. Setelah membacanya, saya membayangkan raut wajah penulis roman Siti Nurbaya , Marah Rusli, penulis Salah Asuhan, Abdul Muis dan penulis Belenggu Armijn Pane. Lamat-lamat wajahnya timbul tenggelam dalam bayangan, seperti pesan masuk di alat komunikasi canggih samartphone; abad ini. Saya sepakat bahwa jenuh seperti raksasa—dalam negeri dongeng—yang mengejar manusia. Namun usia tidak menjadi alasan sepenuhnya bahwa penulis yang telah uzur tidak produktif lagi. Apalagi menjadi apologi seperti sentilan Jakob Sumardjo yang dianggap mutlak oleh Mufid dalam esainya, Sastra Indonesia Modern, Sastra Pubertas. Yaitu penulis sastra yang hanya produktif di usia 17-26 dan mengasing setelah usia 30-40 atau pansiun dari jagat kesusastraan. Kalau saya memahami, sentilan Jakob merupakan harapan akan adanya kajian lebih jauh proses kreatif dari masa ke masa. Bukan tidak produktifnya sa...

POSITIVISME SASTRA EKSIL

Tahun 1965-1966 adalah titik tumpu peluru politik yang meresonansi buku-buku sejarah Indonesia. Kekuatan dua ideologi politik yang saling bertubruk kemudian meledak dan dikenal G 30 S, menewaskan banyak orang, mengasingkan banyak orang—ke dalam penjara atau ke luar negara—dan mengkeruhkan suasana kehidupan berpolitik, beragama, dan berbudaya sekalipun. Suasana mencekam menjadi titik balik terhadap istilah kebudayaan yang dikenal sastra eksil atau sastra rantau. Sastra eksil ialah sastra yang ditulis oleh orang-orang Indonesia yang terbuang secara sosiologis dan geografis. Kerena ketidaksepahaman ideologi politik, mereka was-was untuk meneruskan hidup di tanah air sendiri. Takut dipenjara dengan berbagai siksa atau bahkan dibunuh secara seporadis menjadi alasan mereka minggat dan memilih menetap di Eropa bagian barat, khususnya Belanda. Kejadian itu telah berlalu dan menjadi catatan penting bagi masa depan bangsa ini. Mereka, para sastrawan yang menetap di luar negara Indonesia, ...