Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan

Surat Kepada Para Penyair

Akhir-akhir ini, para penyair ribut. Satu penyair dengan penyair lain saling lempar batu di media sosial—tentu tidak sembunyi tangan—karena penyair, orang-orangny a  itu-itu saja. Masalahnya sepele, yakni kanonisasi sastrawan Indonesia . Menyatakan “itu-itu saja” bukan berarti tidak ada penyair muda. Bannyak. Sangat banyak sekali. Nahasnya, penyair muda menyusu kepada penyair tua. Penyair tua tidak mau melapas asuhannya. Mungkin demi menjaga tradisi—tradisi oligarki demi proyek-proyek kecil yang cukup untuk membeli kopi dan roti. Terciptalah golongan-golongan kecil dalam bersastra. Ada yang golongan utara, selatan, barat, dan timur, yang dikomandani satu penyair besar. Penyair yang bisa berbagi jatah hal ihwal project penelitian, pembukuan, perlombaan dan lain sebagainya. Tidak jadi soal. Karena menjadi penyair di negara ini harus fasih mengisap jempol setiap pagi. Menunggu salah satu karyanya dimuat . Kalo sudah dimuat tinggal menunggu honor, begitulah, laiknya mendapat tunjangan-...

BANGKRUT

     “Hidup nahas bukan pilihanku. Dan tak ada manusia yang akan memilih hidup keparat macam ini.”   Aku berseloroh lantang tengah malam, di pinggir jalan, yang jalannya lurus tetapi curam seperti nasibku.      Usahaku untuk mencari nafkah beralih dari buruk ke bobrok .  Tidak beruntung .  Bangkrut, begitu mereka mengatakan tentangku. Akhir-akhir ini, orang-orang tak lagi banyak uang seperti sebelum-sebelumnya.      Tidak hanya masalah uang, orang-orang tidak lagi memiliki gairah untuk hidup. Apalagi membeli dan membaca buku seperti yang kuandaiakan. Mungkin saja mereka kehilangan semuanya untuk  sekadar hidup . Gampangnya, mereka tidak berminat untuk hidup  seperti dalam pikiraku.        Ini zaman yang membuat orang-orang memilih gila daripada waras tetapi tak berguna dan kelaparan. Zaman dimana jualanku, buku-buku agama, tak pernah laku dalam se tahun . Buku agama bukan buku main-main.  Satu...

VOLTAIRE DAN AKU YANG MALANG

Suatu sore, 15 juli 1689, di bibir pantai Bretagne, Perancis, sang Pastor de Kerkabon dan Nona de Kerkabon mengais masa lalu pada lembab pasir dan deru ombak yang sulit dilupakan; tentang saudara dan iparnya yang tak pernah kembali setelah menaiki kapal L’ Herondelle menuju Kanada. Barangkali kehilangan adalah pengakuan dosa dari pertemuan yang pernah ada. Begitu Voltaire memulai cerita dalam novelnya Si Lugu ( L’ Ingenu ). Masa lalu dan kehilangan menjadi modus siklik untuk semua tokoh yang kelak juga akan merasa kehilangan. Begitupun aku, pada 11 Oktober 2016 lalu, kepergiannya menjadi lonceng sunyi yang mengutukku ke semua sudut kota. Bagiku, kepergiannya adalah pengampunan dari perpisahan yang pernah ada kepada yang lain. Sebagaimana Si Lugu, tokoh utama, tiba-tiba turun dari perahu dan bertemu dengan sang pastor. Setelah percakapan singkat, mereka sepakat untuk melanjutkan perjamuan di Paroki Notre-Dame de la Montagne. Perjamuan menjadi alasan untuk berbagai cerita dan jawab...