Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Surat Kepada Para Penyair

Akhir-akhir ini, para penyair ribut. Satu penyair dengan penyair lain saling lempar batu di media sosial—tentu tidak sembunyi tangan—karena penyair, orang-orangny a  itu-itu saja. Masalahnya sepele, yakni kanonisasi sastrawan Indonesia . Menyatakan “itu-itu saja” bukan berarti tidak ada penyair muda. Bannyak. Sangat banyak sekali. Nahasnya, penyair muda menyusu kepada penyair tua. Penyair tua tidak mau melapas asuhannya. Mungkin demi menjaga tradisi—tradisi oligarki demi proyek-proyek kecil yang cukup untuk membeli kopi dan roti. Terciptalah golongan-golongan kecil dalam bersastra. Ada yang golongan utara, selatan, barat, dan timur, yang dikomandani satu penyair besar. Penyair yang bisa berbagi jatah hal ihwal project penelitian, pembukuan, perlombaan dan lain sebagainya. Tidak jadi soal. Karena menjadi penyair di negara ini harus fasih mengisap jempol setiap pagi. Menunggu salah satu karyanya dimuat . Kalo sudah dimuat tinggal menunggu honor, begitulah, laiknya mendapat tunjangan-...

Kepada Puisiku

mata puisiku rabun pada sumpah serapah orang-orang buntung negeri ini pulau-pulau pun murung bau mesiu, air mata, dan darah mengekalkan ingatan tentang belada luka oh tuan, tidak ada yang benar-benar berlalu meski puisi adalah nenek tua berlidah kelu terbayang samar, mata merah penuh darah, tubuhnya selegam malam, jubahnya seputih awan tangan dan lidahnya seperti pedang tuhan yang tidak mengenal ampun malam yang terbuat dari irama angin gaduh dan anyir yang mereka bayangkan surga adalah air mata dan tangisan demi Tuhan yang dibuat sendiri puisi ini hanyalah debu yang kering bagi kesakitan yang menjelma hujan karena lidahnya telah kaku untuk sekedar melafalkan kengerian dan kau harus tahu, sekarang di sini tidak ada perang selain di dalam diri, di dalam diam 2017