DIDAKTIK DALAM SYAIR KLASIK
Sastra
lama kita, syair, banyak merekam cerita-cerita yang dikisahkan secara
turun-temurun. Seperti syair Ken
Tambunan, Syair Bidasari, Syair Ikan Terubuk Berahikan Puyu-Puyu, Syair Perang
Makasar, dan banyak lagi yang kerap kita dengar dari nenek moyang. Beberapa
unsur menarik dalam syair melayu lama, seperti aspek humor, aspek didaktik dan
aspek simbolik. Semua aspek itu dapat menggambarkan keadaan masyarakat serta
latar belakang cerita atau syair.
Namun
masalahnya, di zaman modernisme sastra melayu lama seolah hilang fakta
kemanusiaannya, seolah bukan gubahan trans individual, bahkan tak penting lagi
dialektika pemahaman dan penjelasan dalam syair-syair tersebut. Revolusi sosial,
politik, ekonomi, dan karya-karya kultural yang besar menggiring manusia
melupakan cerminnya. Melupakan pijakannya.
Pengakuan
Eagleton, 1983, mengenai kesusastraan modern muncul pada abad XIX, yaitu zaman
romantik. Yang pertama muncul adalah penyempitan kategori kesusastraan terhadap
karya kreatif-imajinatif. Kereteria yang disandarkan pada ideologis selera dan
nilai dalam kelas masyarakat terntentu menyempitkan karya sastra sebagai tubuh
yang menyeluruh dari tulisan atau karya yang bernilai.
Padahal
dalam Syair Burung (Unggas) dan Syair Bayam Budiman memuat unsur
simbolik dan didaktik yang manarik. Fakta kemanusiaan yang dikiaskan sedemikian
menarik dapat memberikan arti pada kehidupan post realitas saat ini. Hal itu karena syair merupakan respon, dari
subjek kolektif atau individual, atau suatu percobaan untuk memodifikasi
situasi agar menjadi aspirasi- aspirasi demi keseimbangan hidup dengan
sekitarnya (Goldmann, 1981).
Seperti
Syair Burung dan Bayam Budiman, menceritakan sekawanan burung-burung yang berdialog
mengenai masalah Agama Islam di udara. Di dalamnya dikemukakan ajaran Islam mengenai
shalat lima waktu, membayar zakat sebagai syarat keberagmaan yang baik:
Demikianlah
konon suatu ceritera
segala
unggas yang ada di udara
bersoal
dengan segala saudara-saudara
berkhabarkan
ilmu jangan cedera.
Mula
bertanya si burung Nuri
Itulah
unggas bijak pestari
Ia
berkata sama sendiri
baiklah
kita berperi-peri.
Disahut
oleh burung Dewata
Benar
sekali kakanda berkata
Dari
pada berbuat bohong dan nista
Berkhabarkan
ilmu jangan cedera
Diantara mereka ada yang tekun beribadah seperti burung
Nuri dan burung Dewata, namun ada pula yang lalai dalam menjalankan agamanya,
seperti burung Merbah dan burung Siul. Merupakan simbolisme masyarakat klasik
yang ditengarai Goldmann dengan adanya homologi antara struktur karya sastra
dengan struktur masyarakat karena lahir dari strukturasi yang sama. Namun ideologi
dan pandangan dunialah yang melekatkan struktur masyarakat historis dengan
kreasi libinal (sastra).
Kepercayaan burung Nuri dan burung Dewata untuk mejaga
keseimbangan hidup ‘beribadah’ ditolak oleh burung Merbah dan Siul. Seperti
dalam syair di bawah ini:
Bermadah pula si burung Merbah
Ilmu akhirat hamba tak gundah
Baik mencari penganan juadah
Lekas berasa kepada lidah.
Bermadah pula si burung Siul
Mengaji musykat haram tak betul
Salah sedikit guru/h/ memukul
Lalu
tak dapat mengaji usul
Penolakan
burung Merbah-Siul karena perbedaan ideologi terhadap kehidupan. Bagi Merbah-Siul
hidup hanya untuk lidah, masalah haram bukanlah hal yang gundah. Kenikmatan di
mulut membawanya rela melepaskan pola hidup religiusitas. Seperti refleksi dari
akar pragmatisme hidup yang disimbolkan oleh syair klasik.
Adapun
yang dimaksud strukturasi sastra dalam syair klasik melayu itu—Goldmann; The Epistemology of Sociologi,
1981—meneruskan, bahwa ada dua kategori. Pertama, bahwa karya sastra klasik
merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. Titik imajinernya adalah
diskusi burung Nuri dan Merbah mengenai syarat keberagamaan yang benar. Padahal
yang kita kenal, burung Nuri hanya berkicau di pagi hari, begitu juga semua
burung, tak kan ada yang berdialog mengenai agama.
Kedua,
bahwa dalam usahanya mengekspresikan pandangan dunia itu, pengarang menciptakan
wujud tokoh-tokoh, objek-objek dengan mereduksi realitas yang tak terbatas. Se
ekor burung Nuri, Merbah, Dewata, dan Siul merupakan tokoh yang dibuat
pengarang sebagai kesatuan elemin atas konsep multiplisitas dalam situasi
tertentu. Situasi zaman klasik, sangat memungkinkan keindahan burung-burung—kicau,
bentuk, sikapnya—sangatlah akrab dengan manusia. Alasan sederhana burung
sebagai tokoh dalam syair klasik di atas.
Nilai
didaktik yang terkandung dalam syair tersebut adalah totalitas yang secara
tersirat muncul dalam larik-larik syair yang berima aa aa itu. Nilai-nilai yang
mengorganisasi sesuai dengan masa klasik sebagai totalitas pengarang. Tentu
nilai-nilai itu hanya tertanam di dalam kesadaran penulis dan sifatnya abstrak.
Burung
Nuri dan Dewata mencoba memecahkan permasalahan burung Merbah dan Siul—simbolisasi
manusia—dalam kehidupan sosial yang nyata. Kepercayaan orang-orang terdahulu,
bahwa moral adalah epidemi positif yang dapat menyeimbangkan kehidupan. Fakta
kemanusiaan seperti inilah yang dapat kita ambil dari syair klasik bila tak
dapat mengambil dari puisi saat ini. Puisi yang terkesan individualistik. Puisi
yang ditulis penyair dan hanya untuk penyair.
Usaha interpretatif terhadap karya klasik
semata-mata karena saya sepakat bahwa pemahaman adalah ijtihad untuk mengerti
identitas bagian. Sedangkan penjelasan adalah usaha untuk mengerti makna bagian
dengan memposisikan syair klasik sebagai yang koheren dan menjadi satu kesatuan
yang inspiratif. Bukan!
2015
Komentar
Posting Komentar