SEKS DAN MISTISISME RAJA-RAJA JAWA
Seks merupakan ide yang bersifat
instingtif. Dalam setiap individu, kesadaran laki-laki dan perempuan akan
berjumpa dalam satu titik kesatuan—hubungan badan—yang penuh kreatifitas. Hal
itu ditegaskan oleh Erich Fromm (1991) bahwa kesatuan sperma dengan sel telur
adalah dasar dari segala kreatifitas. Hanya dalam pertemuan kedua kutub itulah rasa
kebersamaan yang menusiawi dapat dirasakan.
Namun dalam masyarakat Jawa yang
disebut-sebut sebagai masyarakat simbolis, seks tak lain merupakan permainan
wacana. Semacam simulasi yang sangat vulgar, sebagai aplikasi logis atas
pelatenan hal-hal yang wadak dari kebenaran esensial yang menjadi kabur. Hal
ini sebagaimana Frans Magnis Saseno (1993) katakan bahwa hubungan seksual dalam
masyarakat Jawa hanya diperbolehkan dalam rangka perkawinan, di luarnya adalah
hal yang tabu.
Relaitas seks dalam ruang domestik
akan melahirkan ekspresi, imajinasi, dan bahkan simbolisasi yang berlebih. Demikian
karena kesadaran individu yang tertanam secara turun temurun, bahwa hanya di
dalam ranah privat bisa mengeksplorasi segala bentuk ide seksual. Sekaligus
sebagai salah satu bukti bahwa di dalam masyarakat Jawa, mulanya, berduaan di
depan publik tanpa ikatan yang sah adalah pantangan dan bahkan aib.
Hal senada yang timbul dalam ranah
domestik: kecantikan mengajawantah dari balik tabir (transparansi). Sebab ketelanjangan
dalam ranah publik justru akan mereduksi secara total akan makna keindahan, dan
kecantikan yang sebenarnya. Seolah-olah esensi dari kecantikan timbul setelah
terbungkus, setelah samar-samar terlihat dalam permainan wacana.
Permasalahan seks adalah permasalahan
manusia yang kompleks. Bahkan Foucault menegaskan bahwa untuk menganalisis ‘strategi
kuasa’ secara faktual, “seksualitas adalah suatu bidang kongkret yang representatif
untuk menganalisis kuasa secara mikro, sebagai suatu realitas yang mempunyai
begitu banyak titik fokus dan tak bisa dianggap sebagai ‘milik’. Karena kuasa
itu tidak datang dari luar, tetapi selalu menyatakan lewat hubungan dan
diciptakan dalam hubungan yang menunjangnya.”
Dan pada kenyataannya, Malinowski
mengungkapkan bahwa seks dalam pengertiannya yang luas, lebih bersifat
sosiologis dan kultural dari pada sekedar hubungan badan antara dua individu.
Seperti dalam kasus Ken Arok yang mulanya didorong oleh “kuasa seksual” untuk
memiliki dan menguasai Ken Dedes, berubah ke ranah “kuasa sosial” untuk
memiliki dan menguasai kekuasaan sosial politik di tangan Tunggal Ametung,
suaminya Ken Dedes, setelah dijatuhkannya.
Demikian, seks merupakan kunci
kehidupan manusia. Dan ajaran-ajaran, mitos, dan kisah mengenai seks adalah
representasi dari polarisasi kehidupan yang pernah ada. Lebih-lebih polarisasi
seks yang timbul dari budaya yang kuat dan khas, masyarakat Jawa, sangatlah
berbeda dengan masyarakat yang tanpa budaya.
Aristophanes dalam naskah deramanya
yang berjudul Lysistrata (ditulis
sekitar abad ke-5 SM), yang mengungkap arti pentingnya dimensi seksual dalam
kehidupan sosial politik dan kultural masyarakat sebuah negeri. Kesadaran
tersebut juga tercermin dalam kisah-kisah raja-raja Jawa, dari periode kuno,
masa-masa Hindu-Budha hingga Mataram-Islam. Masalah seksual tetap menjadi
fragmen penting kehidupan mereka, dan bahkan manjadi cara untuk melanggengkan
kekuasaan.
Mitos Sangkuriang atau Dayang Sumbi di
Pejajaran (Jawa Barat), turunnya Bidadari Nawangwulan atau Jaka Tarub di Kerajaan
Mataram (Jawa Tengah), Tragedi Rara Oyi pada masa pemerintahan Amangkurat I,
dan Tragedi Rara Mendut di Kerajaan Mataram, menjadi sederet fakta bahwa
masalah seksualitas adalah bagian integral dalam kehidupan sosial politik
pangeran Jawa. Foucault pun mengungkapkan bahwa seksualitas merupakan hasil
konstruksi tertentu.
Konstruksi itu dapat dilihat dari
karya-karya yang pernah ada. Seperti dalam Serat
Centhini yang ditulis oleh tiga pujangga besar, yaitu Yasadipura II, Ranggasutrasna,
dan R. Ng. Sastradipura. Atau Serat Wirid
Hidayat Jati Raya-nya R. Ng. Ranggawarsita, Wulang Reh Karya Paku
Buwana IV dan Wedhatama karya Pengeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Sederet
karya itu adalah bukti kongkrit akan keberadaan konstruksi tertentu—perpaduan
Hindu-Budha dan Islam-Jawa—terlepas ke dalam ranah seks atau tidak, inilah jawa
yang sebenarnya.
Namun mari kita lihat Serat Centhini II (Pupuh Asmaradana, 107: 3), menguraikan dengan gamblang tentang Ulah Asmara, bekaitan dengan posisi
genital yang sensetif dalam berhubungan badan, yang dipadu dengan sistem
kalender, Pambukaning Rahsaning Perempuan
(cara mebuka dan mempercepat orgasme perempauan), serta Penyegah Wedeling Rahsa (mencegah atau memperlambat keluarnya
sperma). Dan bahkan dalam Serat Centhini
IV (Pupuh Balabak, 175: 37-59) juga diuraikan dengan gamblang mengenai, Pratingkahing Cumbana (gaya
persetubuhan).
Semua bukti ini semakin mengokohkan
bahwa simulasi seks dalam masyarakat Jawa, tak lain dengan apa yang dikatakan Villaba
Cue bahwa ‘siapa yang mengusai siapa’. Dalam artian bila dunia dikuasai oleh
pihak perempuan maka masyarakatnya akan menjadi matrilineal, sedangkan bila
dikuasai laki-laki maka menjadi patrilineal. Demikian pula dengan sistem
sosial, politik, budaya, dan kekuasaan yang dibangunnya. Atau bisa saja seperti
bangsa ini, dan entahlah!
Semua ulasan di atas menjadi alasan
pentignya buku Seks Para Pangeran
untuk dibaca, selain Otto Sukatno CR telaten dalam mencari data, menyuguhkannya,
dan mengulahnya dengan bahasa sederhana. Persoalan seks merupakan persoalan
manusia yang oleh sebagian orang dianggap selesai dan tak penting dikaji karena
aib, atau alasan lain, tapi bagi Otto, seks adalah realitas yang perlu dikaji
secara tuntas. Lebih-lebih buku ini menjadi penting karena Otto menyuguhkan
data bahwa seks tidak hanya berafiliasi ke ranah ideologis, namun juga
sosiologis dan politis.
Komentar
Posting Komentar