SEMESTA TEROR
Judul : Teror (Catatan Filsafat dan Politik tentang Firman dan
Iman
Penulis : Agus Rois
Penerbit : Makar
Cetakan : I, Maret 2016
Tebal : xiv+224 hlm
Peresensi : Muafiqul Khalid. M.D*
Juergensmeyer
dalam bukunya Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violences
(2003), menyebut teror sebagai aksi teatrikal. Dengan sadar, pelaku teror
memilih tempat yang sesak audiens untuk tampil. Lakon yang
memestikan—kemungkinan lain—para audiens terhentak ketakutan, sebelum benar-benar
seumbunyi, hancur bersama reruntuhan.
Tak ada yang
tersisa. Mungkin air mata—kita atau siapalah yang tidak menjadi korban—jatuh
perlahan sambil menahan sesak kepedihan atau seberkas catatan sebagaimana Agus
Rois rekam—dalam bukunya ini “Teror (Catatan Filsafat dan Politik tentang
Firman dan Iman)”—dari semua kejadian yang menyayat sejarah. Seperti kekal
dalam ingatan, bukan?
Dalam
sejarahnya, Gérard
Chaliand dan Arnaud Blid (ed) dalam The History of Terrorism From
Antiquity to Al Qaeda (2007) beranggapan bahwa Revolusi Perancis
(1789-1799) turut serta hal ihwal lahirnya istilah “teror”. Lebih tepatnya
“terorisme negara.” Revolusi Perancis menjadi titimangsa awal dari kasak-kusuk
teror selanjutnya.
Meskipun pada 2.000 tahun yang silam, aksi
teror telah dipentaskan oleh kaum Zealot Yahudi yang dikenal sebagai Sicarii
(orang berpisau belati; belati digunakan sebagai alat perlawanan). Aksi itu
diperankan untuk melawan penjajah Romawi yang menjarah. Dan lahir sekte Ismaili yang lebih populer dengan sebutan
“Assassin”.
Dan terorisme adalah suatu aksi yang menyebar
ketakutan dengan menggunakan aneka kekerasan. Ragam bentuk terorisme dari
penyanderaan, bom bunuh diri dan penculikan merupakan ancaman yang menggetirkan
semua orang. Agus rois mencatat semua kejadian itu dengan nada getir. Seperti
di halaman tujuh puluh satu, dengan judul tulisan “Terorisme”.
Semesta
Sejarah
Diceritakan, tahun 1981, Presiden Mesir Anwar
Sadat yang pernah mengaku Tuhan ini, diberondong senjata. Sadat Mati di tempat.
Dalam sejarahnya, itulah Presiden Mesir pertama yang ditembus timah panas. Tak
banyak yang bisa diperbuat, malamnya, seluruh mesir mematikan lampu tanda
berkabung.
Setelah kematiannya, Khalid Al-Islambouli
berkata dengan lantang “Aku memang membunuhnya, tapi aku tak bersalah. Aku
telah melepaskan Mesir dari belenggu seorang tiran, setan, dan aku melakukan
itu karena menunaikan kewajiban agama”. Hlm 71.
Pengakuan Khalid seolah membenarkan tesis
Samuel P. Hantington dalam Clash of Civilization, mensinyalir bahwa perkembangan
mutakhir sejarah umat manusia ditandai oleh pertarungan peradaban berlatar
belakang agama. Hal ini tidak menampik Khalid terpengaruh ide Sayyid Quthb dalam
Fil Zhilal al-Quran terhadap aksinya untuk membebaskan Mesir dari
liberalisme.
Tak lupa, Agus juga menjelaskan sejarah pelik
prihal agama. Jika semata-mata aksi terorisme di latarbelakangi oleh agama. Paradoksi
posisi agama yang selalu menjadi tulang punggung barbarisme diulas tuntas. Sejak
zaman Yunani, ide tentang Agama dan Tuhan tergadaikan karena hibuk berebut
posisi apa yang bisa diberikan Anaximandros, Anaximenes, Homeros ataupun
Hosiodos kepada dewa-dewanya.
Dari abad ke-17, keraguan terhadap agama diulas
Hans Kung dalam Does God Exist.
Di abad itu, berbicara hal ihwal Agama dan Tuhan yang diwahyukan seperti meraba
gajah dalam gelap. Itulah mental mereka, imbuh Hans Kung. Meski Pascal, dengan
sedikit nyinyir menyinggung Immanuel Kant seteleh mencemooh lewat Cristique
of Pure Reason: bahwa Tuhan itu jauh, “Mimang ia sadar berjalan dalam
gelap, tapi ia mati sendirian.”
Paradoks posisi agama ditegaskan oleh Michel
Foucault “Agama yang agung dan dipuja di abad pertengahan—abad yang serat
perintah dan larangan seks, dan orang yang merenungkannya disebut alim—dihujat
dengan ganas oleh Karl Marx dan Sigmund Freud pada abad ke-19 dan abad ke-20.
Namun di lain pihak, tahun 1986, Rajiv Gandhi
berpidato: “Tak ada hal yang lebih hina selain kekerasan terhadap agama”. Dan
jauh sebelum Gandhi berpidato pun, Rudolf Otto pada tahun 1921 dalam pertemuan Interreligious
league menutup ceramahnya dengan frase yang dahsat. Bahwa, siapa yang akan
menyelamatkan dunia dari segala kesukaran dan derita yang luar biasa ini? Ahli
politik? Ilmuwan? Ataukah seorang ekonom? Tidak, mereka semua tak berdaya. Semua
itu hanya dapat di jawab oleh agama.
Paradoksal Yang Absurd
Dan
masihkan kita menganggap bahwa terorisme berawal dari tradisi kekerasan agama?
Sebagaimana Agus yang bersikap netral, dengan meminjam ungkapan Emanuel
Levinas: bahwa seseorang telah menjadi sandra dan siap menggantikan orang lain.
Dari ungkapan itu, aksi teror merukapan selubung politik untuk saling menguasai
dengan menjatuhkan yang lain.
Ditegaskan
oleh Johan Galtung pada 20 September 2002, dalam artikelnya yang berjudul To
End Terrorism, End State Terrorism (Untuk Menghentikan Terorisme, Hentikan
Terorisme Negara). Dengan garang ia menunjuk Amerika sebagai negara teror.
Dalam catatannya, sejak tahun 1945, Amerika, baik melalui perintah langsung
Pantagon untuk menyerang negara lain atau melalui operasi CIA (Central Intelligent Agency),
tidak kurang dari 12 juta umat manusia telah menjadi korban, belum termasuk apa
yang berlaku di Afghanistan dan Irak.
Terlepas benar dan salah semua
asumsi di atas, maka “waspada” harus menjadi pekerjaan rumah setiap negara dan
setiap pribadi. Demikian maksud hadirnya catatan Agus Rois. Catatan yang memuat
banyak tema: agama, humanisme, politik dan ekonomi dalam bukunya, semata hanya
menyadarkan bahwa meminjam puisnya Goenawan Muhammad yang berjudul Kwatrin Sebuah
Poci (1973) dalam bait ke dua: “Apa yang berarti dari tanah liat ini // selain
separuh ilusi?// sesuatu yang kelak retak // dan kita membikinnya abadi.”
Komentar
Posting Komentar