Seandainya Khonghucu Lahir di Indonesia

Tahun baru Imlek telah menjadi bagian Indonesia setelah melalui sejarah yang suram. Pada tahun 1968-1999, perayaan Imlek dilarang dirayakan di tempat umum. Dengan instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah palu pemerintahan Soeharto, melarang segala hal yang berbau Teonghoa, termasuk Imlek.
Seandainya Khonghucu lahir di Indonesia, larangan itu tidak akan pernah terjadi. Karena ia adalah—meminjam bahasa Huston Smith—sebagai penyunting utama dengan memilah-milah yang sudah lewat, menggarisbawahi yang sekarang dan menambahi dari Ji Kaou yang dipercaya sebagai orang terpilih untuk Genta Rokhani (Bok Tok). Demikian ia disebut sebagai Sing Jien (Nabi) yang menyempurnakan ajaran suci para nabi dan ajaran para raja zaman purba.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menghendaki kelahiran Khonghucu di Indonesia. Setelah dicabutnya Inpres Nomor 14/1967 pada tahun 2000, maka masyarakat Tionghoa bebas merayakan tahun baru Imlek di mana saja. Dilanjutkan dengan dikeluarkannya keputusan Presiden Nomor 19/2001, tertanggal 9 April 2001, maka ditetapkan tahun baru Imlek sebagai hari libur fakultatif (berlaku bagi mereka yang merayakannya). Puncaknya, pada tahun 2002, imlek resmi dinyatakan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

Pengakuan dan Pembebasan

Pengakuan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (almarhum) terhadap Khonghucu bukan tanpa alasan. Salah satunya, karena ia tahu cita-cita luhur Nabi Khongcu, bahwa hidup adalah keharmonisan individual, masyarakat yang teratur dan didasarkan rasa hormat timbal balik dan kewajiban moral antara penguasa dan manteri, bapak dan anak, saudara tua dan saudara muda, suami dan istri, teman dan temannya.
Juga karena Khonghucu lahir pada saat dimana kemakmuran dan ketentraman sangat mahal harganya. Kerajaan Chou Barat terpecah belah menjadi kerajaan Chou Timur (771-255 SM), Chon Chiu (722-481 SM) serta Chan Kuno (403-221). Pada saat itu, praktik illegal yang merugikan rakyat; ketidakadilan pekerjaan menimpa masyarakat Tiongkok.
Namun ia lahir sebagai sang maha guru dan administrator yang pemikiran-pemikirannya berpengaruh hingga sekarang. Dengan sifatnya yang mudah bergaul, selalu tampak gembira, halus dan teliti, hormat, menghargai orang lain, sederhana dan bersungguh-sungguh, ia menjadi sosok yang sangat dihormati dan ditauladani. Lebih-lebih karena keberhasilannya membuat nagara menjadi toleran dan adil, sehingga kejahatan dan amoral menjadi hilang ditelan kebajikan.

Belajar pada Sang Nabi

Karena keberhasilannya Khonghucu memimpin kota Chun-tu, raja muda Lu sangat mengagung-agungkannya. Hingga terungkap sebuah percakapan: “Saya memperoleh cerita bahwa semenjak anda memegang jabatan di kota Chung-tu, penduduk kota merasakan kebahagiaan dan bersikap loyal. Bagaimana anda melakukannya dalam waktu yang singkat?” lalu ia berkata, “Saya memberi hadiah terhadap yang berbuat baik dan menghukum terhadap yang berbuat jahat. Rakyat menyaksikan bahwa baik untuk menjadi yang berbuat baik dan buruk yang berbuat jahat, mereka pun menjadi baik. Rakyat yang baik itu akan bersikap loyal terhadap sesamanya dan pemerintah”.
Bahkan pernah ditanya oleh muridnya yang bernama Tzu Chang tentang Jen, terangkum dalam Analekta 17:16, ia menjawab: “Agar mampu mempraktekkan lima kebijaksanaan di dunia menurut pandangan Jen”, dan ketika ditanya, apa lima kebijaksanaan tersebut ia menjawab “itu adalah menghormat, keluhuran budi, ketulusan hati, ketekunan dan keramahtamahan. Ia juga mengatakan bahwa Jen tercapai karena mencitai orang lain”.

Kini kusampaikan selamat tahun baru Imlek yang ke-2568 bagi saudara-saudara Tionghoa. Tahun baru sebagai penanda peralihan musim di Tiongkok—bisa disebut  “pesta musim semi” atau chun cie—tapi hakikatnya, pada tanggal 24 bulan 12 tahun Imlek adalah hari persaudaraan dimana orang-orang yang mampu menyantuni yang tidak mampu; antara tanggal 1 sampai tanggal 15 bulan 1 tahun implek adalah saat mempererat tali persaudaraan antara keluarga, kerabat dan masyarakat; tanggal 9 bulan 1 tahun Imlek adalah ritual sembahyang besar kepada Tuhan Esa, yang disebut King Thi Kong dengan harapan bersikap lurus sepanjang tahun; dan tanggal 15 bulan 1 tahun Imlek adalah akhir dengan pesta budaya yang dikenal Cap Go Meh atau festival lampion. Sekali lagi, selamat tahun baru Imlek!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKU YANG MENOLAK BUNUH DIRI

JUNGKIR BALIK MEMBACA EKO TRIONO