Postingan

AKU YANG MENOLAK BUNUH DIRI

Pada malam-malam yang keramat. Aku hanya bisa mematung. Melihat segala yang lewat. Menepis segala katalis yang mendesakku ke jurang kesakitan. Dalam kedalaman batinku, kutegaskan, bahwa aku hanya belajar untuk tenang. Belajar untuk melupakan semua kisah yang pernah ada. Belajar untuk tidak mengingatnya meski satu titik hitam tentangnya. Setelah tiga tahun lebih, aku mendulang jiwaku dengan percintaan yang edan, aku dengan dia yang berkhianat kini: bukanlah apa-apa selain ‘sumpah’ kumengutuknya. Tapi aku bukan Ratu Dido dari Carthage atau Tunisia yang rela mati karena penghianatan sang kekasih, Aeneas yang pergi ke Itali itu. Aku juga tidak butuh sanjungan sebagaimana penyair Roma Virgil dalam bukunya Aeneid (29-19 SM), bahwa kematian Ratu Dido adalah lambang menjaga harga diri. Aku tak akan pernah rela mati pada orang yang membohongiku berkali-kali. Setelah pemaafan yang kesekiankali, aku menjadi mengerti bahwa semuanya sudah tak berarti. Aku tak akan pernah menulis selain kutuka...

Seandainya Khonghucu Lahir di Indonesia

Tahun baru Imlek telah menjadi bagian Indonesia setelah melalui sejarah yang suram. Pada tahun 1968-1999, perayaan Imlek dilarang dirayakan di tempat umum. Dengan instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah palu pemerintahan Soeharto, melarang segala hal yang berbau Teonghoa, termasuk Imlek. Seandainya Khonghucu lahir di Indonesia, larangan itu tidak akan pernah terjadi. Karena ia adalah—meminjam bahasa Huston Smith—sebagai penyunting utama dengan memilah-milah yang sudah lewat, menggarisbawahi yang sekarang dan menambahi dari Ji Kaou yang dipercaya sebagai orang terpilih untuk Genta Rokhani ( Bok Tok ). Demikian ia disebut sebagai Sing Jien (Nabi) yang menyempurnakan ajaran suci para nabi dan ajaran para raja zaman purba. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menghendaki kelahiran Khonghucu di Indonesia. Setelah dicabutnya Inpres Nomor 14/1967 pada tahun 2000, maka masyarakat Tionghoa bebas merayakan tahun baru Imlek di mana saja. Dilanjutkan dengan dikeluarkannya kepu...

VOLTAIRE DAN AKU YANG MALANG

Suatu sore, 15 juli 1689, di bibir pantai Bretagne, Perancis, sang Pastor de Kerkabon dan Nona de Kerkabon mengais masa lalu pada lembab pasir dan deru ombak yang sulit dilupakan; tentang saudara dan iparnya yang tak pernah kembali setelah menaiki kapal L’ Herondelle menuju Kanada. Barangkali kehilangan adalah pengakuan dosa dari pertemuan yang pernah ada. Begitu Voltaire memulai cerita dalam novelnya Si Lugu (L’ Ingenu). Masa lalu dan kehilangan menjadi modus siklik untuk semua tokoh yang kelak juga akan merasa kehilangan. Begitupun aku, pada 11 Oktober 2016 lalu, kepergiannya menjadi lonceng sunyi yang mengutukku ke semua sudut kota. Bagiku, kepergiannya adalah pengampunan dari perpisahan yang pernah ada kepada yang lain. Sebagaimana Si Lugu, tokoh utama, tiba-tiba turun dari perahu dan bertemu dengan sang pastor. Setelah percakapan singkat, mereka sepakat untuk melanjutkan perjamuan di Paroki Notre-Dame de la Montagne. Perjamuan menjadi alasan untuk berbagai cerita dan jawab bag...
SEMESTA TEROR Judul               : Teror (Catatan Filsafat dan Politik tentang Firman dan Iman Penulis             : Agus Rois Penerbit           : Makar Cetakan           : I, Maret 2016 Tebal               : xiv+224 hlm Peresensi        : Muafiqul Khalid. M.D* Juergensmeyer dalam bukunya Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violences (2003), menyebut teror sebagai aksi teatrikal. Dengan sadar, pelaku teror memilih tempat yang sesak audiens untuk tampil. Lakon yang memestikan—kemungkinan lain—para audiens terhentak ketakutan, sebelum benar-benar seumbunyi, hancur bersama reruntuhan. Tak ada yang tersisa. Mungkin air...

DIDAKTIK DALAM SYAIR KLASIK

Sastra lama kita, syair, banyak merekam cerita-cerita yang dikisahkan secara turun-temurun. Seperti syair Ken Tambunan, Syair Bidasari, Syair Ikan Terubuk Berahikan Puyu-Puyu, Syair Perang Makasar , dan banyak lagi yang kerap kita dengar dari nenek moyang. Beberapa unsur menarik dalam syair melayu lama, seperti aspek humor, aspek didaktik dan aspek simbolik. Semua aspek itu dapat menggambarkan keadaan masyarakat serta latar belakang cerita atau syair. Namun masalahnya, di zaman modernisme sastra melayu lama seolah hilang fakta kemanusiaannya, seolah bukan gubahan trans individual, bahkan tak penting lagi dialektika pemahaman dan penjelasan dalam syair-syair tersebut. Revolusi sosial, politik, ekonomi, dan karya-karya kultural yang besar menggiring manusia melupakan cerminnya. Melupakan pijakannya. Pengakuan Eagleton, 1983, mengenai kesusastraan modern muncul pada abad XIX, yaitu zaman romantik. Yang pertama muncul adalah penyempitan kategori kesusastraan terhadap karya kreatif-i...

SEKS DAN MISTISISME RAJA-RAJA JAWA

Seks merupakan ide yang bersifat instingtif. Dalam setiap individu, kesadaran laki-laki dan perempuan akan berjumpa dalam satu titik kesatuan—hubungan badan—yang penuh kreatifitas. Hal itu ditegaskan oleh Erich Fromm (1991) bahwa kesatuan sperma dengan sel telur adalah dasar dari segala kreatifitas. Hanya dalam pertemuan kedua kutub itulah rasa kebersamaan yang menusiawi dapat dirasakan.             Namun dalam masyarakat Jawa yang disebut-sebut sebagai masyarakat simbolis, seks tak lain merupakan permainan wacana. Semacam simulasi yang sangat vulgar, sebagai aplikasi logis atas pelatenan hal-hal yang wadak dari kebenaran esensial yang menjadi kabur. Hal ini sebagaimana Frans Magnis Saseno (1993) katakan bahwa hubungan seksual dalam masyarakat Jawa hanya diperbolehkan dalam rangka perkawinan, di luarnya adalah hal yang tabu.             Relaitas seks dalam ruang domestik ...

PRODUKTIVITAS PENGARANG DALAM ROTASI ZAMAN

Esai Khairul Mufid yang berjudul, Spionase Ketahanan Pengarang , pada Minggu Pagi, 1 Juni 2015, menggelitikku. Setelah membacanya, saya membayangkan raut wajah penulis roman Siti Nurbaya , Marah Rusli, penulis Salah Asuhan, Abdul Muis dan penulis Belenggu Armijn Pane. Lamat-lamat wajahnya timbul tenggelam dalam bayangan, seperti pesan masuk di alat komunikasi canggih samartphone; abad ini. Saya sepakat bahwa jenuh seperti raksasa—dalam negeri dongeng—yang mengejar manusia. Namun usia tidak menjadi alasan sepenuhnya bahwa penulis yang telah uzur tidak produktif lagi. Apalagi menjadi apologi seperti sentilan Jakob Sumardjo yang dianggap mutlak oleh Mufid dalam esainya, Sastra Indonesia Modern, Sastra Pubertas. Yaitu penulis sastra yang hanya produktif di usia 17-26 dan mengasing setelah usia 30-40 atau pansiun dari jagat kesusastraan. Kalau saya memahami, sentilan Jakob merupakan harapan akan adanya kajian lebih jauh proses kreatif dari masa ke masa. Bukan tidak produktifnya sa...