Postingan

Berburu Gerimis di Kota Tua

Gambar
Judul              : Gerimis di Atas Kertas Penulis          : A. S. Rosyid Penerbit         : basabasi Cetakan         : September 2017 Tebal              : 200 hlm; 14 x 20 cm ISBN               : 978-602-6651-30-3       M embaca Gerimis di Atas Kertas,  karya A.S. Rosyid ini, saya diajak mengenal Lombok yang sekarang. Bukan lombok abad ke-14 ketika kerajaan Selaparang digagas oleh Raden Maspahit. Atau Lombok abad ke-16 ketika tumbuh banyak kerajaan di bawah kendali Selaparang, diantaranya Sokong, Bayan, Pejanggik, Langko, Suradadi, dan Parwa.      Apa lagi Lombok yang menurut banyak sejarah mengalami kesakitan berabad-abad di masa la...

USAHA JOSÉ SARAMAGO MENGALAHKAN TUHAN

Judul               : Kain Penulis             : José Saramago Penerjemah      : An Ismanto Penerbit            : Basabasi Cetakan           : Desember 2017 Tebal               : 192 hlm, 14 x 20 cm ISBN                 : 978-602-6651-57-0 José Saramago bagi saya, meminjam salah satu pernyataan Eva Hoffman—Hirsch, 2012—sebagai the hange generation atau the guardianship of the holocaust. Dengan artian, sebagai generasi selanjutnya yang tidak mengalami kekejaman Tuhan secara langsung terhadap manusia di masa lalu. Namun, ia dapat menuliskan pengelaman kelam tersebut seolah pengalamannya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, ...

JUNGKIR BALIK MEMBACA EKO TRIONO

Judul               : Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini Penulis             : Eko Triono Penerbit           : Basabasi Cetakan           : Desember 2017 Tebal               : 220 Hlm; 14 x 20 cm ISBN               : 987-602-6651-67-9 Membaca antologi cerpen terbaru Eko Triono (selanjutnya dibaca ET) ini, teringat dengan salah satu ceramah Umar Kayam di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada akhir tahun 1970, yang berjudul “ Penghayatan Seni dan Eksplorasi Seni; Dua Wajah Dalam Kehidupan Kebudayaan Kita. ” Yang sedikit banyak berbicara mengenai sastra Indonesia kontemporer yang seharusnya selalu dihayati dan dieksplorasi dengan sungguh-sunguh. K...

ALKUDUS DAN TUHAN YANG TAK PERLU DIBELA

Judul               : Alkudus Penulis             : Asef Saeful Anwar Penerbit           : Basabasi Cetakan           : April 2017 Tebal               : 268 hlm; 14x20 cm ISBN               : 978-602-61160-0-0 “Burung-burung tidak terbang dengan sayapnya mereka, melainkan terbang dengan kekuatan hasrat mereka. Ikan tidak berenang dengan tubuh mereka, melainkan berenang dengan kekuatan hasrat mereka. Dan ketika orang mempunyai hasrat untuk berenang, ia akan berenang seperti se ekor ikan,” begitulah aforisma Hazrat Inayat Khan dalam Dimensi Mistik Musik dan Bunyi (2002). “Kekuatan hasrat” dari Hazrat ini sedikit banyak akan menjadi resona...

AKU YANG MENOLAK BUNUH DIRI

Pada malam-malam yang keramat. Aku hanya bisa mematung. Melihat segala yang lewat. Menepis segala katalis yang mendesakku ke jurang kesakitan. Dalam kedalaman batinku, kutegaskan, bahwa aku hanya belajar untuk tenang. Belajar untuk melupakan semua kisah yang pernah ada. Belajar untuk tidak mengingatnya meski satu titik hitam tentangnya. Setelah tiga tahun lebih, aku mendulang jiwaku dengan percintaan yang edan, aku dengan dia yang berkhianat kini: bukanlah apa-apa selain ‘sumpah’ kumengutuknya. Tapi aku bukan Ratu Dido dari Carthage atau Tunisia yang rela mati karena penghianatan sang kekasih, Aeneas yang pergi ke Itali itu. Aku juga tidak butuh sanjungan sebagaimana penyair Roma Virgil dalam bukunya Aeneid (29-19 SM), bahwa kematian Ratu Dido adalah lambang menjaga harga diri. Aku tak akan pernah rela mati pada orang yang membohongiku berkali-kali. Setelah pemaafan yang kesekiankali, aku menjadi mengerti bahwa semuanya sudah tak berarti. Aku tak akan pernah menulis selain kutuka...

Seandainya Khonghucu Lahir di Indonesia

Tahun baru Imlek telah menjadi bagian Indonesia setelah melalui sejarah yang suram. Pada tahun 1968-1999, perayaan Imlek dilarang dirayakan di tempat umum. Dengan instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah palu pemerintahan Soeharto, melarang segala hal yang berbau Teonghoa, termasuk Imlek. Seandainya Khonghucu lahir di Indonesia, larangan itu tidak akan pernah terjadi. Karena ia adalah—meminjam bahasa Huston Smith—sebagai penyunting utama dengan memilah-milah yang sudah lewat, menggarisbawahi yang sekarang dan menambahi dari Ji Kaou yang dipercaya sebagai orang terpilih untuk Genta Rokhani ( Bok Tok ). Demikian ia disebut sebagai Sing Jien (Nabi) yang menyempurnakan ajaran suci para nabi dan ajaran para raja zaman purba. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menghendaki kelahiran Khonghucu di Indonesia. Setelah dicabutnya Inpres Nomor 14/1967 pada tahun 2000, maka masyarakat Tionghoa bebas merayakan tahun baru Imlek di mana saja. Dilanjutkan dengan dikeluarkannya kepu...

VOLTAIRE DAN AKU YANG MALANG

Suatu sore, 15 juli 1689, di bibir pantai Bretagne, Perancis, sang Pastor de Kerkabon dan Nona de Kerkabon mengais masa lalu pada lembab pasir dan deru ombak yang sulit dilupakan; tentang saudara dan iparnya yang tak pernah kembali setelah menaiki kapal L’ Herondelle menuju Kanada. Barangkali kehilangan adalah pengakuan dosa dari pertemuan yang pernah ada. Begitu Voltaire memulai cerita dalam novelnya Si Lugu (L’ Ingenu). Masa lalu dan kehilangan menjadi modus siklik untuk semua tokoh yang kelak juga akan merasa kehilangan. Begitupun aku, pada 11 Oktober 2016 lalu, kepergiannya menjadi lonceng sunyi yang mengutukku ke semua sudut kota. Bagiku, kepergiannya adalah pengampunan dari perpisahan yang pernah ada kepada yang lain. Sebagaimana Si Lugu, tokoh utama, tiba-tiba turun dari perahu dan bertemu dengan sang pastor. Setelah percakapan singkat, mereka sepakat untuk melanjutkan perjamuan di Paroki Notre-Dame de la Montagne. Perjamuan menjadi alasan untuk berbagai cerita dan jawab bag...